Kurikulum dalam Perspektif Pendidikan Islam   Leave a comment

KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF

FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Setiap kegiatan yang akan dilakukan apa lagi untuk mencapai sesuatu dari yang dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu pendidikan baik jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang terencana dan sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang diinginkan, yang proses perencanaan ini dalam istilah pendidikan disebut dengan kurikulum.

Pendidikan merupakan bentuk usaha sadar dan terencana yang berfungsi untuk mengembangkan potensi yang ada pada manusia agar bisa digunakan untuk kesempurnaan hidupnya dimasa depan nanti. Jika dilihat dalam perspektif Islam adalah untuk membentuk manusia menjadi Insan Kamil dan menciptakan bentuk masyarakat yang ideal dimasa depan. Dari istilah Insan Kamil ini maka segala aspek dalam pendidikan haruslah sesuai dengan idealitas Islam, dengan dirancangnya suatu kurikulum yang mengacu kepada nilai-nilai dari agama Islam yang bersumber pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul.

Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani yaitunya “curir” yang artinya pelari dan “curere” yang artinya jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Jika dihubungkan dengan pendidikan kurikulum ini berarti bahan pengajaran, sedangkan dalam kosa kata Bahasa Arab istilah kurikulm dikenal dengan “manhaj” yang berarti jalan yang terang dilalaui oleh manusia pada berbagai bidang kehidupannya. Jika dikaitkan dengan pendidikan berarti jalan terang yang dilalui pendidik dengan orang-orang yang dididik untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap mereka.[1]

Sedangkan secara terminologi, pengertian kurikulum dapat kita lihat atau baca dari para ahli berikut ini:[2]

a.      Crow and Crow

Kurikulum adalah rancangan pengajaran yang isinya sejumlah mata pelajaran yang disusun secara sistematis sebagai syarat untuk menyelesaikan suatu program pendidikan tertentu.

b.     Saylor Alexander (dikutip S. Nasution)

Kurikulum bukan hanya memuat sejumlah mata pelajaran, akan tetapi termasuk juga didalamnya segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan baik di lingkungan sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

c.      Hasan langgulung

Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian baik yang dilaksanakan dilingkup sekolah maupun diluar lingkungan sekolah.

Dari hal diatas dapat disimpulkan bahwa kurikulum itu merupakan landasan atau pedoman bagi seorang pendidik dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik atau pembimbing bagi peserta didik (siswa) yang dididknya kearah tujuan yang diinginkn sehingga adanya pengetahuan, keterampilan dan sikap yang bisa mnejadikan Insan Kamil.

Dalam pengajaran biasanya hanya terfokus pada ruang kelas saja, tapi dengan perkembangan yang terjadi saat ini sumber pendidikan dapat diperoleh dari berbagai hal diluar kelas seperti perpustakaan, museum, majalah,televisi, surat kabar, radio dan yang lebih memudahkan lagi adalah internet yang segala sesuatunya ada informasinya didalamnya.

Jadi kurikulum juga harus mempertimbangkan hal itu agar peserta didik bisa terus mengikuti perkembangan dari suatu ilmu pengetahuan, tekhnologi, kebudayaan dan lain sebagainya yang ada diluar dari sekolah agar tidak dicap siswa yang gagal akan perkembangan zaman.

Dalam kaitan dengan pengetahuan apa sajakah yang harus diajarkan dan dipelajari didalam proses pendidikan berikut pandangan para filosof islam:[3]

1.                           Al Ghazali adalah seorang ahli pikir muslim yang bergelar Hujjatul Islam. Dalam masalah pendidikan beliau berpendapat bahwa, pendidikan hendaknya ditujukan kearah mendekatkan diri pada Allah dan dari sanalah akan diperoleh hidup didunia dan kebahagiaan di akhirat.

Al ghazali mengusulkan beberapa ilmu pengetahuan yang harus dipelajari di sekolah sebagai berikut:

a.      Ilmu alquran dan ilmu agama seperti fiqih, hadis, dan tafsir.

b.     Sekumpulan bahasa, nahwu, dan mahraj serta lafaz-lafaznya, karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama.

c.      Ilmu-lmu fardhu kifayah yaitu ilmu kedokteran, matematika, tekhnologi yang beraneka ragam jenisnya termasuk juga ilmu politik.

d.     Ilmu kebudayaan seperti syair, sejarah, dan beberapa cabang filsafat

Jenis-jenis inilah yang menjadi substansi untuk suatu kurikulum bagi al ghazali tapi harus tetap diadakan suatu modifikasi agar sesuai dengan tuntutan masyarakat yang bersifat tidak tetap.

2.                           Ibnu Sina adalah seorang filosof dan ahli kedokteran, beliau berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu ada 2 jenis yaitu ilmu nazhori (teoritis), dan ilmu amali (praktis).

a.      Ilmu nazhori adalah ilmu alam dan ilmu riyadhi (ilmu matematika). Ilmu ilahi adalah ilmu yang mengandung i’tibar tentang wujud kejadian alam dan isinya melalui penganalisian yang jelas dan jujur sehingga diketahui siapa penciptanya. Tujuan filsafat secara teoritis ini untuk menyempurnakan jiwa melalui ilmu.

b.     Ilmu amali adalah ilmu yang membahas tentang tingkah laku manusia dilihat dari segi tingkah laku individualnya. Tujuan filsafat secara amali ini untuk menyempurnakan jiwa dengan melalui amal perbuatan.

3.                           Ibnu Khaldun adalah seorang ahli filsafat dan sosiologi. Ibnu Khaldun membagi ilmu menjadi 3 macam yaitu:

a.      Ilmu lisan (bahasa) yaitu ilmu lughah, nahwu, bayan, dan sastra.

b.     Ilmu naqli yaitu ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah nabi.

c.      Ilmu aqli yaitu ilmu yang dapat menunjukkan manusia dengan daya pikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan ilmu pengetahuan seperti ilmu mantiq, ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu teknik hitung dan tingkah laku manusia.

4.                           Ikhwanussofa adalah suatu perkumpulan para mujtahid dalam bidang filsafat. Pendapat ikhwanussofa tenttang masalah pendidikan yaitu:

a.      Mencari ilmu itu wajib

b.     Mengajarkan ilmu kepada orang lain itu wajib

c.      Mencari ilmu harus berlangsung sampai usia 50 tahun

d.     Dalam mengajarkan ilmu, guru harus memperhatikan kecenderungan dan kemampuan anak.

Dilihat dari aspek diatas tidak ada disebutkan jenis-jenis pengetahuannya tapi dalam suatu proses belajar mengajar seorang guru itu harus mendidik peserta didiknya untuk mengenali kebenaran yang berasal dari al Quran dan Hadist.

5.                           Prof. Dr. Fadhil al-djamaly adalah seorang guru besar ilmu pendidikan pada universitas tunis, mengharapkan agar semua jenis ilmu yang dikehendaki oleh al Quran diajarkan kepada anak meliputi: ilmi agama, sejarah, ilmu falak, ilmu jiwa, ilmu kedokteran, pertanian, biologi, matematika,hukum, ekonomi dan lainnya.

Isi Kurikulum Pendidikan Islam

 

Cakupan bahan pengajaran yang ada dalam suatu kurikulum kini terus semakin luas atau mengalami perkembangan karena tuntutan dari kemajuan ilmu pengetahuan, kebudayaan, tekhnologi yang terjadi di dalam masyarakat, dan beban yang diberikan pada sekolah.

Berdasarkan tuntutan perkembangan itu maka para perancang menetapakan cakupan kurikulum meliputi 4 bagian yaitunya :[4]

a.                                  Tujuan merupakan arah, sasaran, target yang akan dicapai melalui proses belajar mengajar.

b.                                 Isi merupakan bagian yang berisi pengetahuan, informasi, data, aktifitas, dan pengalaman yang diajarkan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

c.                                  Metode merupakan cara yang digunakan guru atau dosen kepada peserta didik untuk menyampaikan mata pelajaran agar mudah dimengerti.

d.                                 Evaluasi merupakan cara yang dilakukan guru untuk melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran.

Untuk menentukan kualifikasi isi kurikulum pendidikan islam dibutuhkan syarat yang perlu diajukan dalam perumusan yaitu:

a.                          Materi yang disusun tidak menyalahi fitrah manusia

b.                          Adanya relevansi dengan tujuan pendidikan islam

c.                          Disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik

d.                          Membawa peserta didik kepada objek empiris dan praktik langsung

e.                          Penyusunan bersifat integral, terorganisasi

f.                            Materi sesuia dengan masalah mutahir yang sedang dibicarakan

g.                          Adanya metode yang sesuai

h.                          Materi yang diajarkan berhubungan dengan peserta didik nantinya.

i.                            Memperhaikan aspek sosial

j.                            Punya pengaruh positif

k.                          Memperhitungkan waktu, tempat

l.                            Adanya ilmu alat ayng mempelajari ilmu lain.

Setelah syarat itu dipenuhi disusunlah isi kurikulum pendidikan. Isi kurikulum menurut ibnu khaldum terbagi jadi 2 tingkatan:

1.         Tingkatan pemula

Materi kurikulum difokuskan pada alquran dan sunnah nabi

2.         Tingkatan atas

Tingkatan ini punya 2 klasifikasi:

  • Ilmu yang berkaitan dengan zatnya
  • Ilmu yang berkaitan dengan ilmu lain seperti ilmu bahasa, matematika, mantiq

Menurut Al Ghazali klasifikasi isi kurikulum pada 3 kelompok yaitu:

a.                          Kelompok menurut kuantitas yang mempelajari

  • Ilmu fardhu ‘ain yaitu ilmu yang harus diketahui oleh setiap muslim yan bersumber dari kitab allah.
  • Ilmu fardhu kifayah yaitu ilmu yang cukup dipelajari oleh sebagian orang muslim saja misalnya kedokteran, pertanian dan lainnya

b.                          Kelompok menurut fungsinya

  • Ilmu tercela adalah ilmu yang tidak berguna  untuk masalah dunia maupun akhirat serta mendatangkan kerusakan
  • Ilmu terpuji adalah ilmu agama yang dapat mensucikan jiwa dan menghindari hal-hal yang buruk, serta ilmu yang dapat mendekatkan diri pada allah
  • Ilmu terpuji dalam batasan tertentu tidak bolaeh dipelajari secara mendalam karena akan mendatangkan ateis

c.                          Kelompok menurut sumbernya

  • Ilmu syar’iyah adalah ilmu-ilmu yang didapat dari wahyu ilahi dan sabda nabi
  • Ilmu ‘aqliyah adalah ilmu yang berasal dari akal pikiran setelah mengadakan eksperimen dan akulturas.

Allah berfirman dalam Q.S. Fushshilat ayat 53 mengenai isi kurikulum:

 

Artinya:

“Kami akan memeperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami disegenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehungga jelaslah bagi mereka bahwa al quran iu adalah benar. Danapakah tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa sesungguhnya dia menyaksikan segala sesuatu”

Ayat tersebut terkandung 3 isi kurikulum pendidikan islam yaitunya:

1.       Isi kurikulum berdasarkan pada ketuhanan

2.       Isi kurikulu berorientasi pada manusia

3.       Isi kurikulum berorientasi pada alam.[5]

Azas-Azas Kurikulum Pendidikan Islam.

 

Azas merupakan dasar atau inti dalam pembentukan suatu kurikulum dan juga yang mempengaruhi atau menentukan perkembangan suatu kurikulum. Suatu kurikulum harus mengandung unsur seperti tujuan, isi, metode, dan penilaian yang kesemuanya juga menjadi landasan dalam pembentukan dan pengembangan kurikulum.

Herman H. Horne memberikan dasar kurikulum dengan 3 macam yaitu:[6]

a.              Dasar psikologis yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan peserta didik.

b.             Dasar sosiologis yang digunakan untuk mengetahui tuntutan sah dari masyarakat.

c.Dasar filosifis yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup.

Ketiga dasar diatas jika dihubungkan dengan perspektif Islam belum dikatakan sempurna karena yang menjadi dasar, yaitunya Islam tidak ada terkandung didalamnya. Dalam pendidikan Islam ada usaha untuk menginternalisasikan nilai-nilai agama islam sebagai titik sentral tujuan dalam proses pedidikanislam itu sendiri.

Oleh karena itu, al-Syaibani menetapkan dasar pokok dalam kurikulum Islam sebagai berikut:[7]

a.      Dasar agama.

Dasar agama dalam kurikulum pendidikan islam harus berdasarkan nilai-nilai yang ada al-Qur’an dan Sunnah Rasul, karena kedua unsur ini adalah kebenaran yang bersifat universal, abadi, dan tidak ada keraguan didalamnya.

Sabda Rasul:

إني قد تركت فيكم ماإن اعتصمتم به فلن تضلوا أبدا كتاب الله تعالى وسنة نبيه

Artinya:

“Sesungguhnya aku telah meninggalakan untuk kamu, yag jika kamu berpegang teguh dengannya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya, yakni Kitabullah dan Sunnah Nabinya.” (hadist riwayat hakim)

b.      Dasar falsafah.

Dasar ini memberikan arah dan kompas tujuan pendidkan Islam, dengan dasar filosofis susunan kurikulum pendidikan Islam mengandung suatu kebenaran. Dari dasar falsafah ini membawa konsekuen bahwa rumusan kurikulum pendidikan Islam ini beranjak dari konsep atau dimensi ontologi, epistimologi, dan aksiologi.

  • · Dimensi ontologi

Konsep ini mengarahkan kurikulum agar lebih banyak memberi peserta didik untuk berhubungan langsung dengan objek. Dimensi ini diambil dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh Allah SWT kepada Nabi Adam as dengan memberitahukan dan mengajarkan nama-nama benda (asma’). Firman Allah S.W.T :

Artinya:

“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian mengemukakan pada para malaikat, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (Q.S. al-Baqarah : 31)

Dari hal diatas berarti dimensi ini lebih pada pengalaman atau data yang didapat oleh peserta didik langsung dari apa yang dia lihat dan rasa dari pengalaman sehari-hari mereka.

  • · Domensi epistimologi

Perwujudan kurikulum yang valid harus berdasarkan pendekatan metode ilmiah yang sifatnya mengajar berpikir menyeluruh, reflektif, dan kritis.

Dampak dimensi epistimologi dalam rumusan kurikulum adalah:

1.      Penguasaan konten (the what) yang tidak sepenting dengan penguasaan bagaiman memperoleh ilmu pengatahuan itu. Berarti pemahaman atau penguasaan suatu ilmu itu tidak penting tapi bagaimana ilmu itu diperoleh (diproses) itu yang dikaji.

2.      Kurikulum lebih memberatkan pada pelajaran proses maksudnya disini bagaimana siswa merekonstruksi ilmu, aktivitas yang ada, serta bagaimana pemecahan suatu masalah.

3.      Konten cenderung bersifat fleksibel karena pengetahuan itu bersifat tidak mutlak dan dapat berubah-ubah, karena alam akan mengalami perubahan dari saat kesaat. Umar bin al-Khattab menyatakan:

إن أبائكم قد خلقوا لجيل غير جيلكم و لزمان غير زمانكم

Artinya:

“Sesungguhnya anak-anakmu dijadikan untuk generasi yang lain dari generasimu, dan zaman yang lain dari zamanmu.”

  • · Dimensi aksiologi

Dimensi ini mengarahkan pembentukan kurikulum agar memberikan kepuasan pada diri peserta didik agar memiliki nilai-nilai yang ideal, supaya hidup dengan baik dan terhindar dari nilai-nilai yang tidak diinginkan.

Nilai-nilai ideal ini bisa menimbulkan daya guna dan fungsi yang bermanfaat bagi peserta didik dalam kelangsungan hidup menuju kesempurnaan, kenyamana dan dijauhi dari segala sesuatu yang menimbulkan kesengsaraan atau kerugian.

c.Dasar psikologi.

Dasar ini mempertimbangkan tahapan-tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang dilalui oleh anak didik seperti halnya perkembangan jasmaniah, intelektual, bahasa, emosi, sosial, kebutuhan, keinginan individu, minat, dan kecakapan.

d.      Dasar sosial.

Dasar ini menjelaskan bahwa pembentukan kurikulum pendidikan islamharus mengacu kearah realisasi individu dalam mesyarakat sehingga manusia mampu mengambil peran dalam masyarakat dan kebudayaan dalam konteks kehidupan zamannya.

Segala aspek hidup kita tidak luput dari yang namanya masyarakat. Kurikulum dalam pembentukannyapun kita harus berpatokan pada masyarakat, karena segala sesuatunya berasal dari masyarakatdan kembalinya kepada masyarakat. Maka tuntutannya dari masa kemasa tidak selalu sama mengalami perubahan.

e.Dasar organisator.

Dasar ini mengenai bentuk penyusunan (pengorganisasian) materi pelajaran yang akan diajarkan.

Berdasarkan kelima azas diatas, antara azas yang satu dengan azas yang lainnya tidak bisa berdiri sendiri mereka saling berhubungan dan berubah sesuai kebutuhan atau kemajuan zaman. Azas diatas merupakan kesatuan yang utuh dalam pengembangan peserta didik dalam unsur ketauhidan, agama, sebagai khalifah dan lainnya.

Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam.

 

Bicara mengenai prinsip berarti yang harus ada dalam kurikulum tersebut atau aspekyang harus ada dalam pengembangan kurikulum tersebut. Dalam pendidikan Islam prinsip-prinsip dalam kurikulum harus sesuai dengan sumber pokok agama yaitunya al-Qur’an dan Hadist.

Prinsip yang ditetapkan Allah S.W.T dan diperintahkan Rasulullah berikut bisa dijadikan pegangan:[8]

a.            Firman Allah SWT

Artinya:

“Carilah segala apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu mengenai kehidupan diakhirat dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu didunia dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuatbaik kepadamu,” (Q.S. al-Qashash: 77)

b.             Sabda Rasulullah S.A.W

من أراد الدنيا فعليه بالعلم و من أراد الأخرة فعليه بالعلم من أراد هما فعليه بالعلم

Artinya:

“Barang siapa yang menginginkan dunia (kebahagiaan hidup di dunia), maka hendaklah ia menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat), hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu keduanya (Hadist Nabi).

Prinsip-prinsip kurikulum pendidikan islam sebagai berikut:[9]

1.          Prinsip yang berorientasi pada tujuan, seluruh aktifitasnya dalam kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan sebagai hamba dan khalifah Allah SWT.

2.          Prinsip relevansi (kesesuaian), agar kurikulum yang ditetapkan harus dibentuk sedemikian rupa sehingga tuntutan pendidikan dengan kurikulum memenuhi jenis dan mutu tenaga kerja dimasyarakat serta tuntutan Illahi.

3.          Prinsip efisiensi dan efektifitas, agar kurikulum dapat mendaya gunakan waktu, tenaga, biaya secara cermat dan tepat.

4.          Prinsip fleksibilitas (lentur), agar kurikulum disusun begitu lentur atau luwes sehingga bisa disesuaikan denga kondisi waktu, tempat, dan perkembangan zaman.

5.          Prinsip integritas, mengupayakan kurikulum agar menghasilkan manusia yang utuh dan mampu mengimbangi zikir dan pikir, dan dapat menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat.

6.          Prinsip kontinuitas (berkelanjutan), bagaimana susunan kurikulum saling berkesinambungan antara yang satu dengan yang lain. Jangan sampai terjadi pelajaran yang bersifat mundur tapi harus sesuai atau berkembang sesuai jenjang pendidikan.

7.          Prinsip sinkronisme, bagaimana suatu kurikulum dapat seirama, senada, setujuan jangan sampai dia menghambat kegiatan lain.

8.          Prinsip objektivitas, kurikulum dilakukan melalui tuntutan kebenaran ilmiah yang objektif dan mengesampingkan pengaruh emosi dan irasional (Q.S al-Midah : 8)

9.          Prinsip demokratis artinya saling mengerti, memahami keadaan, situasi dan objek kurukulum.

10.      Prinsip analisis mengandung tuntutan agar kurikulum dikonstruksikan melalui analisis isi bahan mata pelajaran, analisis tingkah laku sesuai denan isi materi pelajaran.

11.      Prinsip individualisasi, memperhatikan perbedaan pembawaan dan lingkungan hidup seperti perbedaan watak, bakat, kelebihan, kekurangan dan lainnya.

12.      Prinsip pendidikan seumur hidup, hal ini diterapkan mengingat keutuhan potensi manusia ssebagai sesuatu yang berkembang dan keutuhan wawasan dan sadar akan nilai dan semuanya tidak akan tercapai tanpa adanya belajar yang berkesinambungan.

Selain dari prinsip sebelumnya, kurikulum dalam pendidikan islam mempunyai 7 prinsip yaitu:[10]

Pertama,

Prinsip pertautan yang sempurna dengan agama termasuk didalamnya ajaran dan nilai-nilai. Setiap bagian dalam kurikulum seperti tujuan, kandungan, metode, penilaian harus berdasarkan pada agama.

Kedua,

Prinsip menyeluruh pada tujuan dan kandungan kurikulum mencakup tujuan membina akidah, akal, jasmani, hal yang bermanfaat bagi masyarakat dalam perkembangan spiritual, sosial, ekonomi, politik.

Ketiga,

Prinsip keseimbangan yang relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum.

Keempat,

Prinsip keterkaitan antara bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan pelajar.

Kelima,

Prinsip pemeliharaan antara perbedaan individu diantara pelajar baik dari segi minat atau bakatnya.

Keenam,

Prinsip menerima perkembangan dan perubahan yang sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat.

Ketujuh,

Prinsip keterkaitan antara berbagai mata pelajaran dengan pengalaman dan aktifitas yang terkandung dalam kurikulum.

Karakteristik Kurikulum Pendidikan Islam.

 

Omar muhammad at-Toumy al-Syaibani menyebutkan 5 ciri-ciri kurikulum pendidikan islam sebagai berikut:[11]

a.        Menonjolkan atau mementingkan tujuan agama dan akhlak dalam berbagai hal seperti tujuan, kandungan, metode, alat dan teknik.

b.        Meluaskan cakupan perhatian dan kandungan hingga mencakup perhatian, pengembangan serta bimbingan terhadap pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologi, sosial dan spiritual.

c.        Adanya prinsip keseimbangan dalam kandungan kurikulum.

d.        Menekankan konsep menyeluruh dan keseimbangan dalam menata mata pelajaran yang diperlukan oleh peserta didik.

e.        Kurikulum sesuai dengan minat, kemampuan, keperluan, dan perbedaan antara individual dengan peserta didik lainnya.

Dari karakteristik diatas berarti peserta didik tidak hanya sebagai objek dari perkembangan suatu kurikulum tetapi juga sebagai subjek maksudnya individu atau manusia yang mengembangkan dirinya menuju kesempurnaan atau kedewasaan yang sesuai dengan harapan Illahi.

Karakteristik kurikulum diatas menyatakan bahwa kurikulum hanya suatu sarana untuk mengembangkan manusia dimana memiliki potensi untuk menuju kesempurnaan.

Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam

1.       alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan

2.       pedoman dan program harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan

3.       fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerja bagi yang tidak melanjutkan

4.       standar dalam penilaian kriteria keberhasilan suatu proses pendiikan.[12]

Kurikulum pada hakikatnya adalah untuk manusia (peserta didik) yang disampaikan oleh guru dalam suatu  proses pendidikan. Kurikulum harus bersifat dinamis dan konstruktif dalam arus proses perkembangan masyarakat manusia yang arahnya tidak sama atau selalu mengalami perubahan dalam berbagi aspek, karena kurikulum merupakan alat untuk mendidik generasi muda dan menolong mereka untuk membuka dan mengembangkan bakatnya,keterampilannya untuk menjadi insan yang kamil dan khalifah di bumi.

 


[1] Al-Rasyidin dan Syamsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Histories, Teoritis, dan Praktis, Ciputat : Ciputat Press, 2005,h 55-56

[2] Abuddin Nata, Filsafat Pendidian Islam, Jakarta : Gaya Media Pratama, 2005, h 175-176

[3] Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidika Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, h 80-86

[4] Op. cit Abuddin Nata, h 176-177

[5] Abdul Mujib, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kencana, 2005, h 148-154

[6] Ibid, Abdul Mujib, h 124

[7] Ibid, h 125-131

7 Op. cit, Muzayyin Arifin, h 87-88

[9] Op.cit, Abdul Mujib, h 131-133

[10] Op. Cit, Abuddin Nata, h 180

[11] Op.cit, al Rasyidin dan Samsul Nizar, h 179

[12] Op.cit, Abdul Mujib, h 134

About these ads

Posted Juli 16, 2011 by milakarmilatbi in Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: